Ada godaan yang selalu muncul ketika kita membaca fantasi: keinginan untuk menggambar peta. Kita ingin tahu di mana letak istana, ke arah mana sungai mengalir, berapa hari perjalanan dari gerbang kota ke pegunungan di kaki langit. Viriconium karya M. John Harrison dibangun justru untuk mengecewakan keinginan itu, dan pengingkaran tersebut bukan kelalaian melainkan inti dari seluruh proyeknya.
Kota yang berganti wajah setiap cerita
Sepanjang rangkaian yang dimulai dari The Pastel City (1971) hingga cerita-cerita pendek yang menutup kanon, nama jalan berubah, geografi bergeser, bahkan zaman sejarah kota itu tidak konsisten. Tokoh yang sama seakan hidup di lapisan waktu yang berbeda. Pembaca yang berusaha menyusun kronologi akan menyerah, dan penyerahan itulah yang diminta teks. Harrison memperlakukan Viriconium bukan sebagai tempat yang harus dipercayai keberadaannya, tetapi sebagai gagasan tentang kota yang terus-menerus ditulis ulang oleh keinginan penghuninya.
Antifantasi sebagai sikap
Kritikus sering menyebut karya ini “antifantasi”. Istilah itu tepat bila kita memahaminya bukan sebagai penolakan terhadap imajinasi, melainkan penolakan terhadap kenyamanan yang biasa dijanjikan fantasi: dunia yang utuh, aturan sihir yang stabil, dan hierarki nilai yang jelas antara yang baik dan yang jahat. Harrison mencabut jaminan itu. Ia membiarkan kota tetap indah sekaligus busuk, memikat sekaligus tak dapat dihuni. Keindahan bahasanya tidak dipakai untuk membangun pelarian, melainkan untuk memperlihatkan betapa rapuhnya setiap pelarian.
Peta sebagai bentuk kekuasaan
Menggambar peta adalah tindakan kuasa: ia mengklaim bahwa suatu tempat dapat diketahui sepenuhnya, dikuasai, dan dimiliki. Dengan menolak dipetakan, Viriconium menolak dimiliki. Kota itu tetap menjadi milik pengalaman, bukan milik kartografer. Inilah sebabnya cerita seperti “A Young Man’s Journey to Viriconium” berakhir di dunia kita sendiri — di sebuah kamar mandi kafe yang lusuh — seolah menegaskan bahwa jalan menuju kota ajaib selalu melewati kehidupan yang paling biasa, dan tidak pernah benar-benar tiba.
Apa yang bisa dipelajari penulis
Bagi penulis, pelajaran dari Viriconium bukanlah “jangan bikin peta”, melainkan “ketahuilah untuk apa peta Anda”. Detail dunia sebaiknya melayani makna, bukan sekadar melengkapi inventaris. Ketika Harrison membiarkan geografinya cair, ia sebenarnya mengarahkan perhatian pembaca dari “di mana” ke “bagaimana rasanya” — dari topografi ke suasana batin. Konsistensi yang ia jaga bukan konsistensi denah, melainkan konsistensi nada: rasa kehilangan, ironi, dan kerinduan pada sesuatu yang tidak pernah stabil.
Tiga fase, satu pembusukan
Secara kasar, kanon Viriconium bergerak dalam tiga fase. The Pastel City masih dekat dengan pedang-dan-sihir klasik: ada pahlawan, ada misi, ada mesin perang purba yang dihidupkan kembali. A Storm of Wings mulai membusuk dari dalam — bahasanya mengental, persepsi tokoh retak, dan realitas seakan diserang oleh cara pandang serangga. Lalu In Viriconium serta kumpulan cerita pendeknya melarutkan segalanya menjadi kabut ironi urban. Yang menarik, pergeseran ini bukan sekadar perubahan gaya; ia adalah argumen. Harrison memperlihatkan bahwa genre fantasi itu sendiri menua, kehilangan keyakinan pada mitosnya sendiri, dan akhirnya hanya bisa mengenang bentuknya yang dulu.
Nama yang kehilangan jangkar
Perhatikan bagaimana nama bekerja di sini. Tegeus-Cromis, sang pendekar yang “menganggap dirinya penyair lebih baik ketimbang pendekar”, muncul dan lenyap; jalan-jalan bernama muluk seperti Bistro Californium terdengar megah tetapi menunjuk ke kekumuhan. Nama-nama dalam fantasi biasa berfungsi sebagai jangkar: ia menstabilkan dunia, memberi kesan sejarah yang dalam. Harrison memakai nama untuk efek sebaliknya — untuk memperlihatkan jurang antara gengsi sebuah sebutan dan kenyataan yang lusuh di baliknya. Ironi ini bukan lelucon; ia cara memperlihatkan bahwa bahasa selalu menjanjikan lebih daripada yang bisa ditepati dunia.
Warisan pada fiksi urban modern
Tanpa Viriconium, sulit membayangkan gelombang “new weird” yang datang kemudian. Kota-kota rekaan yang busuk sekaligus memesona pada karya penulis seperti China Miéville berutang banyak pada preseden Harrison: gagasan bahwa latar bisa menjadi tokoh utama, dan bahwa kota bisa dibuat terasa hidup justru dengan menolak konsistensi mekanis. Yang membedakan Harrison adalah ia menahan diri dari kemegahan; kotanya tidak pernah menjadi tontonan, melainkan tetap intim, muram, dan manusiawi.
Membaca ulang tanpa mencari jawaban
Cara terbaik menikmati Viriconium adalah berhenti bertanya “sebenarnya kota ini seperti apa” dan mulai bertanya “apa yang berubah dalam diri saya setiap kali kota ini berubah”. Bacaan pertama mungkin membingungkan; bacaan kedua memaafkan kebingungan itu; bacaan ketiga menikmatinya. Teks ini menghargai pembaca yang bersedia kehilangan arah, sebab tersesat adalah satu-satunya cara jujur untuk mengenal tempat yang memang dirancang untuk tidak dikenali. Ada baiknya membaca keempat bagian secara berurutan dalam satu edisi omnibus, bukan sebagai novel-novel terpisah, agar efek pembusukan bertahap itu terasa sebagai satu gerakan tunggal.
Viriconium dalam peta karier Harrison
Menempatkan Viriconium dalam keseluruhan karier Harrison membantu kita memahami taruhannya. Ia menulis rangkaian ini pada dekade yang sama ketika ia mulai memanjat tebing secara serius dan mengasah prosa realisnya yang kelak memuncak dalam Climbers. Ketegangan antara dua dorongan itu — hasrat pada yang fantastis dan komitmen pada yang konkret — terasa di sepanjang Viriconium. Kota itu adalah laboratorium tempat Harrison belajar membawa disiplin realis ke dalam materi fantastis: setiap keajaiban harus punya tekstur, setiap kemegahan harus punya bau. Ketika kelak ia menulis fiksi ilmiah dalam Trilogi Kefahuchi, pelajaran yang dipetik dari Viriconium terbawa: bahwa latar spekulatif paling kuat justru ketika ia menolak menjadi pelarian yang bersih, dan sebaliknya memaksa pembaca menghadapi kefanaan, kegagalan, dan keindahan yang tak dapat dipertahankan. Membaca Viriconium, dengan demikian, bukan sekadar menikmati sebuah dunia rekaan; ia menyaksikan seorang penulis menemukan metodenya sendiri.
Pada akhirnya, penolakan Viriconium untuk menjadi peta adalah undangan: bukan untuk memecahkan teka-teki, melainkan untuk tinggal sejenak di ruang yang tidak menjanjikan keselamatan. Di situlah Harrison paling jujur — dan paling sulit dilupakan.