Istilah “antifantasi” mudah disalahpahami sebagai permusuhan terhadap imajinasi. Pada M. John Harrison, maknanya justru sebaliknya: ia begitu mencintai kemungkinan fantasi sehingga menolak membiarkannya menjadi malas. Antifantasi adalah kritik yang bekerja dari dalam genre, bukan dari luar — sebuah pembongkaran yang dilakukan oleh seseorang yang tahu persis cara kerja mesin yang ia bongkar.
Kenyamanan yang dijanjikan fantasi
Fantasi arus utama biasanya menjanjikan tiga hal: dunia yang koheren, moralitas yang terbaca, dan makna yang tersimpan menunggu ditemukan sang pahlawan. Ketiganya menenangkan karena mereka menyiratkan bahwa alam semesta punya struktur yang berpihak pada kita. Harrison curiga pada janji-janji ini. Baginya, dunia yang terlalu rapi adalah dusta halus — sebuah cara menghindari kekacauan yang sebenarnya kita alami.
Bagaimana Harrison membongkarnya
Alih-alih menolak elemen fantastis, Harrison menaruhnya di samping detail kehidupan yang kumuh dan biasa: kafe yang bau, pekerjaan yang membosankan, tubuh yang menua. Efek juxtaposisi ini bukan olok-olok, melainkan pertanyaan: mengapa kita begitu menginginkan pelarian, dan apa yang kita hindari dengannya? Keajaiban dalam prosanya selalu hadir bersama residu kesedihan, seolah setiap keajaiban adalah tanda dari sesuatu yang hilang.
Godaan “worldbuilding”
Dalam esai-esainya yang terkenal keras, Harrison menyebut obsesi pada worldbuilding sebagai “clomping foot of nerdism” — kaki yang menghentak dan mematikan misteri. Argumennya bukan bahwa detail dunia itu buruk, melainkan bahwa detail yang tidak melayani makna justru membunuh daya hidup teks. Sebuah cerita tidak menjadi lebih dalam karena kita tahu mata uang dan silsilah rajanya; ia menjadi lebih dalam karena kita merasakan sesuatu yang tak terjelaskan.
Antifantasi sebagai kejujuran
Yang membuat sikap ini bukan sekadar sinisme adalah kesungguhannya. Harrison tidak menertawakan pembaca yang merindukan keajaiban; ia berbagi kerinduan itu, tetapi menolak memuaskannya dengan cara murahan. Ia ingin keajaiban yang dibayar penuh — dengan kehilangan, dengan ketidakpastian, dengan pengakuan bahwa dunia tidak berutang makna kepada kita. Itulah antifantasi: fantasi yang menolak berbohong tentang harganya.
Konteks: dari New Worlds ke masa kini
Sikap antifantasi Harrison tidak lahir dari kekosongan. Ia matang di lingkungan majalah New Worlds pada 1960-an dan 1970-an di bawah Michael Moorcock, tempat fiksi ilmiah dan fantasi didorong untuk menjadi lebih sastrawi, lebih eksperimental, dan lebih kritis terhadap konvensinya sendiri. Dari sana Harrison menyerap keyakinan bahwa genre bukanlah cetakan yang harus dipatuhi, melainkan bahan yang bisa dibongkar. Ketika ia kemudian menyerang worldbuilding, ia sebenarnya melanjutkan proyek New Wave: memindahkan bobot dari “dunia” ke “pengalaman”, dari mesin ke manusia.
Salah paham yang umum
Banyak pembaca keliru mengira antifantasi berarti Harrison membenci pembaca fantasi atau menganggap dirinya lebih tinggi. Pembacaan itu meleset. Kritiknya diarahkan pada kemalasan estetika, bukan pada kesenangan membaca. Ia sendiri menulis adegan-adegan yang penuh keajaiban; bedanya, keajaiban itu selalu punya bobot dan konsekuensi. Antifantasi bukan larangan terhadap keindahan, melainkan tuntutan agar keindahan itu diperoleh, bukan diberikan cuma-cuma. Perbedaan ini penting: yang ia tolak adalah pelarian yang tidak jujur, bukan imajinasi itu sendiri.
Bagaimana ini mengubah cara membaca
Begitu Anda memahami antifantasi, sulit membaca fantasi dengan cara lama. Anda mulai memperhatikan kapan sebuah buku sekadar mengisi Anda dengan detail dunia dan kapan ia benar-benar mempertaruhkan sesuatu secara emosional. Anda menjadi pembaca yang lebih menuntut — dan, ironisnya, lebih mampu menikmati fantasi yang bagus, karena kini Anda tahu apa yang membuatnya bagus. Inilah hadiah tak terduga dari sikap yang tampak merusak itu: ia mempertajam kesenangan, bukan membunuhnya.
Antifantasi dan tanggung jawab pembaca
Ada dimensi etis yang jarang dibahas dalam gagasan antifantasi: ia memindahkan sebagian tanggung jawab dari penulis ke pembaca. Fantasi yang “nyaman” memperlakukan pembaca sebagai penerima pasif yang harus dipuaskan; antifantasi memperlakukannya sebagai mitra yang mampu menanggung ketidakpastian. Ini penghormatan, bukan penghinaan. Ketika Harrison menolak menjelaskan segalanya, ia sebenarnya berkata: saya percaya Anda cukup dewasa untuk hidup dengan pertanyaan yang tak terjawab. Dalam budaya hiburan yang makin menuntut kejelasan instan, penutupan yang rapi, dan penjelasan atas setiap misteri, sikap ini terasa hampir subversif. Ia mengajak kita melatih toleransi terhadap ambiguitas — sebuah keterampilan yang berguna jauh melampaui membaca fiksi. Sebab hidup itu sendiri, seperti kota Viriconium, jarang menawarkan peta yang lengkap; ia menuntut kita bergerak di tengah ketidakpastian, membuat makna dari yang tersedia, dan menerima bahwa sebagian pertanyaan memang tidak punya jawaban yang bersih.
Pertanyaan pembaca
Apakah antifantasi berarti anti-Tolkien? Tidak sesederhana itu. Kritik Harrison lebih diarahkan pada peniru yang mengambil cangkang Tolkien — peta, silsilah, bahasa rekaan — tanpa memahami kedalaman moral dan kesedihan yang menghidupinya. Menuntut kejujuran bukanlah menolak keindahan.
Dari mana pembaca baru sebaiknya mulai? Viriconium memperlihatkan antifantasi dalam praktik, sementara esai-esai Harrison memperlihatkannya dalam teori. Membaca keduanya berdampingan memberi gambaran paling lengkap tentang sikapnya.
Pelajaran bagi pembaca dan penulis
Bagi pembaca, antifantasi mengajak kita menuntut lebih dari cerita yang kita cintai: bukan lebih banyak peta dan silsilah, melainkan lebih banyak kejujuran emosional. Bagi penulis, ia menawarkan disiplin: pertanyakan setiap detail, dan tanyakan apakah ia memperdalam pengalaman atau sekadar mengisi ruang. Warisan Harrison adalah keberanian untuk membuat genre yang kita sukai menjadi lebih dewasa — dengan mencintainya cukup untuk menuntutnya jujur. Antifantasi, pada akhirnya, bukanlah gerbang keluar dari fantasi melainkan jalan menuju versinya yang paling matang: satu tempat di mana keajaiban dan kehilangan tinggal berdampingan, dan di mana pembaca diperlakukan sebagai orang dewasa yang sanggup menanggung keduanya sekaligus.